Selasa, 14 Oktober 2008

Desa Pedawa - Desa Bali Mula

Desa Pedawa terletak di kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali merupakan salah satu desa Bali Mula (Bali Aga). Oleh karena itu masyarakatnya memiliki karateristik yang agak berbeda dengan masyarakat Bali umumnya. 

Beberapa hal tentang Desa Pedawa:

  1. Bahasa

Bahasa di Desa Pedawa tidak mengenal istilah tingkatan bahasa seperti bahasa-bahasa di desa lain di Bali. Jadi bahasanya satu macam saja. Sama seperti bahasa Indonesia

Perbedaan lainnya adalah pengucapan akhir kata, dimana kalau desa lainnya di bali huruf akhir a dibaca e kalau di Desa Pedawa tetap di baca a.

Seperti kata :

Bahasa Indonesia

Pengucapan DiDesa Lain

Pengucapan Di Desa Pedawa

Bunga

Bunge

Bunga

Berapa

Akude

Akuda

Sudah

Sube

Uba

dll

 

 

Sedangkan akhiran lainnya sama. 

Kata-katanya juga ada beberapa yang berbeda dengan desa lain.

Seperti contoh:

Kata Pedawa

Kata Desa Lain

Kata Indonesia

Ara

Sing, Ten, Nenten

Tidak

Maku

Kemu

Kesana

Ko

-

Kamu

Awek'€™e

Deweke

Kita

Aku

Tiang, Icang

Saya

Nang

Ken, Ajak

Sama

Karepan

Gelan, Demenan

Pacar

Kejaa

Kija

Kemana

Jaa

Dija

Dimana

Jembang

Jembor

Jambangan

dll

 

 

 

Makanya jangan heran kalau orang Bali sendiri tidak mengerti bahasa desa Pedawa. 

  1. Sistem Kekerabatan

Di Desa Pedawa tidak mengenal sistem kasta seperti di Bali Umumnya. Semua orang punya kedudukan yang setara. Disana hanya mengenal istilah tetua desa, yang dipilih secara tidak langsung oleh masyarakat desa. 

Untuk pemimpin upacara (Pemangku) biasanya dipilih dari orang yang mampu melakukannya. 

Jadi disini tidak ada orang yang bergelar Ida Bagus/Ida Ayu, I Gusti dll. Juga tidak ada gelar Pedanda, Pendeta, pemangku dsb, semuanya cuma satu. 

Sedangkan sistem kekeluargaan, sama seperti masyarakat Bali umumnya yaitu menganut garis kebapakan.

Perbedaanya adalah dari cara pemanggilan:

Bapak dipanggil Bapa

Ibu dipanggil meme

Paman dipanggil maman

Bibi dipanggil bibi

Kakek dipanggil kaki

Nenek dipanggil dadong

Uwak dipanggil uwa

Adik Ipar memanggil kakak iparnya : Kaka

Adik Ipar menyebit dirinya : Nira

Di Desa Pedawa tidak mengenal panggilan kakak (Beli/Embok), antar orang yang sebaya dan antar saudara dipanggil namanya saja (Ko/Kamu).

Hal ini juga berlaku untuk paman/bibi/uwak yang belum nikah/kawin.

Kalau paman/bibi/uwak sudah menikah tapi belum punya anak, dipanggil: Maman/Bibi/uwa Paluk.

Kalau paman/bibi/uwa sudah punya anak maka anak pertama yang menjadi panggilan Paman/Bibi/Uwa. Contohnya kalau anak pertamanya bernama Artha maka panggilannya adalah Maman Artha/Bibi Artha/Uwa Artha. 

  1. Pura / Sanggah di Desa Pedawa 

Karena di Desa Pedawa sudah terkena pengaruh majapahit maka Pura Kahyangan Tiga juga ada di Desa Pedawa.

Pura-pura di Desa Pedawa antara lain:

Ø       Pura Desa

Gambar: Pura Desa 

Ø       Pura Bingin yang merupakan Pura Puseh

Ø       Pura Kayuwan Desa yang merupakan Pura Dalem

Ø       Pura Telaga Waja

Gambar: Pura telaga waja 

Ø       Pura Subak Kopi untuk pemeluk yang mempunyai kebun

Ø       Pura Subak Uma untuk pemeluk yang mempunyai sawah 

Sanggah-sanggah keluarga yang ada di Desa Pedawa:

v      Pura Dadia

Di Desa Pedawa banyak Pura Dadia menurut kawitannya, seperti Arya Kenceng, Pasek Gelgel, Arya Tembau, dll.

Kebetulan kawitan saya adalah Warga Ageng Pemecutan yang terletak di Puri Pemecutan Denpasar.

Gambar: Sanggah Keluarga/Pura Dadia Warga Ageng Pemecutan Di Pedawa

 v      Sanggah Ijasan

Sanggah Ijasan adalah Sub dari Pura Dadia. Jadi dari keluaga besar dadia itu membentuk lagi pura/ sanggah untuk keluarga yang lebih kecil.

Gambar: Sanggah ijasan 

v      Sanggah Manten

Sanggah manten wajib dimiliki oleh orang yang sudah berkeluarga. Jika orang tersebut tinggal bersama orang tuanya, maka juga harus dibuatkan sanggah keluarga untuk keluarganya sendiri.

Gambar: Sanggah manten 

Sanggah keluarga terdiri dari 7 bagian yang masing-masing bagian berisi banten untuk memuja betara/betari antara lain:

1.      Gede Taksu Kemulan

2.      Pura Rambut Siwi

3.      Pura Majapahit

4.      Pura Ulun Danu

5.      Pura Labuhan Aji

6.      Pura Munduk Duur

7.      Pura Alas Kowalon 

v      Pelangkiran

Tempat sembahyang yang berada di atas tempat tidur.

Gambar: Pelangkiran 

v      Jero Penunggu Karang

Terdapat di halaman rumah yang berfungsi sebagai penunggu/penjaga rumah.

Gambar: Jero Penunggun Karang 

v      Jro Nyoman & Skepat Sari

Terdapat di kebun.

Gambar: Jro Nyoman & Skepat Sari 

v      Taksu

Terdapat di tempat-tempat tertentu seperti pohon-pohon besar dll 

Upacara/Piodalan di Desa Pedawa 

Piodalan di Desa Pedawa umumnya sama dengan Desa lainnya di Bali, baik itu hari raya keagamaan seperti Galungan, kuningan, nyepi dll.

Pada hari raya galungan seluruh anggota keluarga bersembahyang di Pura Dadia, sanggah ijasan dan membuat banten untuk leluhur. 

Tapi ada beberapa upacara yang mungkin berbeda atau tidak ada di desa lainnya

v      Upacara Telu Bulanan

Upacara telu bulanan di Desa Pedawa umumnya hampir sama dengan yang di desa lainnya.

Upacara telu bulanan dilakukan pada waktu bayi berumur 3x35 hari yaitu: 105 hari.

Gambar: Perlengkapan upacara telu bulanan 

Gambar: Banten Upacara telu bulanan 

 

Gambar: Pelaksanaan Upacara Telu Bulanan 

v      Metanggapan

Metanggapan dilakukan sejak bayi berumur 1 bulan 7 hari bali (42 hari) dan diulang sebanyak 7 kali. Untuk waktu/harinya bebas selama masih ada kesempatan dan tidak dalam keadaan cuntaka. 

Gambar: Banten Tanggapan 

v      Nyerimpen

Upacara nyerimpen dilakukan pada waktu hari raya galungan dan khusus untuk anak berumur kurang dari lima tahun. Nyerimpen bisa dilakukan lebih dari sekali dan diulang dengan bilangan ganjil (1x,3x,5x dll) dan diakhiri dengan nyerimpen memakai wayang.

Gambar: Banten Nyerimpen 

v      Upacara Perkawinan/Nganten

Upacara Perkawinan/Nganten di Desa Pedawa umumnya sama dengan di desa lainnya. Bedanya pakaian yang dikenakan penganten lebih sederhana daripada di Bali umumnya.

Gambar: Pelaksanaan upacara mantenan 

v      Upacara ngerasakin

Upacara ngerasakin adalah upacara untuk kebun dan pekarangan. Jadi yang punya kebun atau rumah beserta pekarangannya wajib melakukan upacara ini. Waktunya tidak terikat boleh sekali, dua kali atau berkali kali.

Hal yang utama adalah menggunakan babi guling pada setiap bantennya. Jadi berapa banyak kita mempunyai kebun dan pekarangan rumah, segitu kita menyediakan banten dan babi gulingnya.

Gambar: Upacara ngerasakin 

v      Upacara mesaudan

Mesaudan adalah upacara khusus untuk sanggah manten, tempat beras, tempat dagangan, tempat nasi dll. Upacara dilaksanan setahun sekali pada purnama (kurang jelas juga aku).

Gambar: Mesaudan di sanggah manten. 

v      Upacara-upacara lainnya

Upacara-upacara lainnya sebagian besar meniru upacara hindu bali pada umumnya, baik ngaben dll

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Bagaimana kisahnya sampai ada dadia warga ageng Puri Pemecutan di desa Pedawa? Saya belum menemukan informasi yg terkait di buku Sejarah Puri Pemecutan dan Babad Badung.
Terima kasih atas penjelasannya yg tentunya dapat memperkaya khazanah warisan leluhur. Salam.