Desa Pedawa terletak di kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng,
Beberapa hal tentang Desa Pedawa:
- Bahasa
Bahasa di Desa Pedawa tidak mengenal istilah tingkatan bahasa seperti bahasa-bahasa di desa lain di Bali. Jadi bahasanya satu macam saja. Sama seperti bahasa
Perbedaan lainnya adalah pengucapan akhir kata, dimana kalau desa lainnya di bali huruf akhir a dibaca e kalau di Desa Pedawa tetap di baca a.
Seperti kata :
| Bahasa Indonesia | Pengucapan DiDesa Lain | Pengucapan Di Desa Pedawa |
| Bunga | Bunge | Bunga |
| Berapa | Akude | Akuda |
| Sudah | Sube | Uba |
| dll | | |
Sedangkan akhiran lainnya sama.
Kata-katanya juga ada beberapa yang berbeda dengan desa lain.
Seperti contoh:
| Kata Pedawa | Kata Desa Lain | Kata |
| Ara | Sing, Ten, Nenten | Tidak |
| Maku | Kemu | Kesana |
| Ko | - | Kamu |
| Awek'e | Deweke | Kita |
| Aku | Tiang, Icang | Saya |
| Nang | Ken, Ajak | Sama |
| Karepan | Gelan, Demenan | Pacar |
| Kejaa | Kija | Kemana |
| Jaa | Dija | Dimana |
| Jembang | Jembor | Jambangan |
| dll | | |
Makanya jangan heran kalau orang
- Sistem Kekerabatan
Di Desa Pedawa tidak mengenal sistem kasta seperti di Bali Umumnya. Semua orang punya kedudukan yang setara. Disana hanya mengenal istilah tetua desa, yang dipilih secara tidak langsung oleh masyarakat desa.
Untuk pemimpin upacara (Pemangku) biasanya dipilih dari orang yang mampu melakukannya.
Jadi disini tidak ada orang yang bergelar Ida Bagus/Ida Ayu, I Gusti dll. Juga tidak ada gelar Pedanda, Pendeta, pemangku dsb, semuanya cuma satu.
Sedangkan sistem kekeluargaan, sama seperti masyarakat
Perbedaanya adalah dari cara pemanggilan:
Bapak dipanggil Bapa
Ibu dipanggil meme
Paman dipanggil maman
Bibi dipanggil bibi
Kakek dipanggil kaki
Nenek dipanggil dadong
Uwak dipanggil uwa
Adik Ipar memanggil kakak iparnya : Kaka
Adik Ipar menyebit dirinya : Nira
Di Desa Pedawa tidak mengenal panggilan kakak (Beli/Embok), antar orang yang sebaya dan antar saudara dipanggil namanya saja (Ko/Kamu).
Hal ini juga berlaku untuk paman/bibi/uwak yang belum nikah/kawin.
Kalau paman/bibi/uwak sudah menikah tapi belum punya anak, dipanggil: Maman/Bibi/uwa Paluk.
Kalau paman/bibi/uwa sudah punya anak maka anak pertama yang menjadi panggilan Paman/Bibi/Uwa. Contohnya kalau anak pertamanya bernama Artha maka panggilannya adalah Maman Artha/Bibi Artha/Uwa Artha.
- Pura / Sanggah di Desa Pedawa
Karena di Desa Pedawa sudah terkena pengaruh majapahit maka Pura Kahyangan Tiga juga ada di Desa Pedawa.
Pura-pura di Desa Pedawa antara lain:
à Pura Desa

Gambar: Pura Desa
à Pura Bingin yang merupakan Pura Puseh
à Pura Kayuwan Desa yang merupakan Pura Dalem
à Pura Telaga Waja

Gambar: Pura telaga waja
à Pura Subak Kopi untuk pemeluk yang mempunyai kebun
à Pura Subak Uma untuk pemeluk yang mempunyai sawah
Sanggah-sanggah keluarga yang ada di Desa Pedawa:
v Pura Dadia
Di Desa Pedawa banyak Pura Dadia menurut kawitannya, seperti Arya Kenceng, Pasek Gelgel, Arya Tembau, dll.
Kebetulan kawitan saya adalah Warga Ageng Pemecutan yang terletak di Puri Pemecutan Denpasar.

Gambar: Sanggah Keluarga/Pura Dadia Warga Ageng Pemecutan Di Pedawa
Sanggah Ijasan adalah Sub dari Pura Dadia. Jadi dari keluaga besar dadia itu membentuk lagi pura/ sanggah untuk keluarga yang lebih kecil.

Gambar: Sanggah ijasan
v Sanggah Manten
Sanggah manten wajib dimiliki oleh orang yang sudah berkeluarga. Jika orang tersebut tinggal bersama orang tuanya, maka juga harus dibuatkan sanggah keluarga untuk keluarganya sendiri.

Gambar: Sanggah manten
Sanggah keluarga terdiri dari 7 bagian yang masing-masing bagian berisi banten untuk memuja betara/betari antara lain:
1. Gede Taksu Kemulan
2. Pura Rambut Siwi
3. Pura Majapahit
4. Pura Ulun Danu
5. Pura Labuhan Aji
6. Pura Munduk Duur
7. Pura Alas Kowalon
v Pelangkiran
Tempat sembahyang yang berada di atas tempat tidur.

Gambar: Pelangkiran
v Jero Penunggu Karang
Terdapat di halaman rumah yang berfungsi sebagai penunggu/penjaga rumah.

Gambar: Jero Penunggun Karang
v Jro Nyoman & Skepat Sari
Terdapat di kebun.

Gambar: Jro Nyoman & Skepat Sari
v Taksu
Terdapat di tempat-tempat tertentu seperti pohon-pohon besar dll
Upacara/Piodalan di Desa Pedawa
Piodalan di Desa Pedawa umumnya sama dengan Desa lainnya di
Pada hari raya galungan seluruh anggota keluarga bersembahyang di Pura Dadia, sanggah ijasan dan membuat banten untuk leluhur.
Tapi ada beberapa upacara yang mungkin berbeda atau tidak ada di desa lainnya
v Upacara Telu Bulanan
Upacara telu bulanan di Desa Pedawa umumnya hampir sama dengan yang di desa lainnya.
Upacara telu bulanan dilakukan pada waktu bayi berumur 3x35 hari yaitu: 105 hari.



Gambar: Perlengkapan upacara telu bulanan

Gambar: Banten Upacara telu bulanan


Gambar: Pelaksanaan Upacara Telu Bulanan
v Metanggapan
Metanggapan dilakukan sejak bayi berumur 1 bulan 7 hari bali (42 hari) dan diulang sebanyak 7 kali. Untuk waktu/harinya bebas selama masih ada kesempatan dan tidak dalam keadaan cuntaka.

Gambar: Banten Tanggapan
v Nyerimpen
Upacara nyerimpen dilakukan pada waktu hari raya galungan dan khusus untuk anak berumur kurang dari

Gambar: Banten Nyerimpen
v Upacara Perkawinan/Nganten
Upacara Perkawinan/Nganten di Desa Pedawa umumnya sama dengan di desa lainnya. Bedanya pakaian yang dikenakan penganten lebih sederhana daripada di

Gambar: Pelaksanaan upacara mantenan
v Upacara ngerasakin
Upacara ngerasakin adalah upacara untuk kebun dan pekarangan. Jadi yang punya kebun atau rumah beserta pekarangannya wajib melakukan upacara ini. Waktunya tidak terikat boleh sekali, dua kali atau berkali kali.
Hal yang utama adalah menggunakan babi guling pada setiap bantennya. Jadi berapa banyak kita mempunyai kebun dan pekarangan rumah, segitu kita menyediakan banten dan babi gulingnya.

Gambar: Upacara ngerasakin
v Upacara mesaudan
Mesaudan adalah upacara khusus untuk sanggah manten, tempat beras, tempat dagangan, tempat nasi dll. Upacara dilaksanan setahun sekali pada purnama (kurang jelas juga aku).

Gambar: Mesaudan di sanggah manten.
v Upacara-upacara lainnya
Upacara-upacara lainnya sebagian besar meniru upacara hindu bali pada umumnya, baik ngaben dll